Kapal mulai berlayar meninggalkan pelabuhan Padang Bai, Bali. Terus membelah Selat Lombok, menuju pelabuhan Lembar, Pulau Lombok.
Saya memilih menaiki Kapal ferry ini, karena alternatif termurah dari Bali
menuju pulau lombok. Dengan ongkos 36 ribu dan menempuh perjalanan diatas laut
selama 4 sampai 5 jam, sampai di Pulau Lombok. Disini, kapal selalu siap berangkat
sejam sekali dari pelabuhan Padangbay, beroperasi selama 24 jam menuju
pelabuhan Lembar, Lombok.
Dua jam diatas kapal tidak membuat saya merasa bosan. Mata saya di
sajikan dengan hamparan air biru yang begitu luas. Matahari yang bersinar membuat air tampak berkilauan di depan sana. Riak-riak air karna hembusan angin
seperti saling kejar-kejaran, saling bertubrukan menghasilkan percikan air.
Hmmm...sungguh menakjubkan. Berada dia atas laut tidak selalu membosankan
ternyata. Apalagi di suguhi pemandangan yang indah. Lautan Indonesia.
Mungkin ini sebagian kecil lautan yang saya arungi di indonesia.
Dan, lihatlah ternyata sebagian kecil laut di indonesia saja begitu luas.
Apalagi kalau semua di gabung. Seberapa luas, coba ?. Sempat terbesit satu
pertanyaan di benak saya, karna pernah baca berita di media beberapa waktu
lalu, tentang Indonesia yang meng-impor garam. Hmmm...Bagaimana mungkin
Indonesia yang memiliki laut yang begitu luas meng-impor garam ?. Apa mungkin
lautan biru yang terpampang luas di depan mata saya, airnya tak asin lagi ?
hmmm... Entahlah, yang pasti saya memulai perjalanan ini bukan untuk memikirkan
hal-hal aneh yang terbesit di otak saya. Saya berangkat sendirian dari kota
jogja dengan tujuan PulauLombok untuk mendaki ke puncak Gunung Rinjani dua hari
lalu.
Dua hari lalu, saya berangkat dari Jogja dengan bus menuju Denpasar,
Bali. Perjalanan hampir menghabiskan waktu satu hari satu malam. Dari kota
Jogja, bus berangkat hari Jum’at pukul 14.00 WIB. Sampai Denpasar, Bali, hari
Sabtu pukul 13.00 WIB. Karna perbedaan waktu antara Jogja dan Bali selama satu
jam, jadi sampai di Bali saat itu sekitar pukul 14.00 WITA.
Sampai di Terminal Ubung, Bali, saya di jemput Nico Yama -- teman
satu kos-an waktu dia di jogja. Rumahnya di Denpasar, satu jam dari terminal
Ubung. Waktu berangkat dari jogja, saya sudah menghubungi Nico, numpang nginap
satu malam dirumahnya, sebelum melanjutkan perjalanan menuju pulau Lombok esok
hari. Lumayan, dapat tumpangan gratis...
Pagi sekitar pukul 10, Nico Yama mengantar saya dengan sepeda
motor ke pelabuhan padang bay. Semalam dia dengan senang hati mau mengantar
saya ke pelabuhan Padangbay, sekalian jalan-jalan katanya. Dari Denpasar kami
tempuh perjalanan selama kurang dari dua jam. Sampai pelabuhan Padangbay, saya
mengucapkan terima kasih kepada Nico atas tumpangan dan juga telah mengantar ke
pelabuhan, saya langsung menuju loket, membeli tiket penyebrangan menuju
pelabuhan Lembar, Lombok.
Tepat , pukul 12.00 WITA, Kapal mulai perlahan-lahan meninggalkan
pelabuhan Padangbay. Pelabuhan ini saya lihat tidak terlalu ramai. Kapal ferry
yang saya tumpangi juga tidak ramai oleh penumpang. Siang itu, hanya truk
pengangkut barang yang banyak terlihat di pelabuhan dan naik kekapal. Saya naik
ke dek penumpang paling atas, melihat pulau Bali seiring kapal terus berlayar.
Good by, Bali. Pulau Lombok telah menanti di depan mata.
Tidak terasa, satu jam lagi berlalu, sudah tiga jam diatas kapal, terus
menuju pulau Lombok yang kian jelas terlihat di depan mata. Barisan bukit-bukit
terlihat berjejer rapi di depan sana. Seperti gugusan karang yang menyembul
dari dalam lautan. Nelayan dengan perahu tampak lagi menebar jaring menangkap
ikan tengah lautan. Pemandangan yang indah dan aktivitas warga pesisir semakin
terlihat seiring kapal terus menuju dermaga pelabuhan lembar.
Kapal merapat satu jam kemudian di dermaga. Akhirnya saya sampai
di pelabuhan Lembar, Pulau Lombok, setelah 4 jam berada di atas kapal. Para
penumpang terlihat telah bersiap-siap untuk turun. Truk satu persatu mulai
keluar dari kapal melalui dermaga. Carrier saya yang tadi tergeletak di bangku
tempat duduk penumpang telah berada pundak saya. Bersiap - siap turun dari
kapal menjejakkan kaki di pulau Lombok. Sembari turun dari atas kapal
saya menelpon Janual( Teman yang saya kenal melalui media online) menanyakan
angkutan menuju kerumahnya.
Dari pelabuhan lembar saya naik angkot menuju terminal Mandalika.
Terus sambung lagi naik angkot tiga perempat menuju masbagik, seperti Janual
bilang melalui telpon. Ongkos angkot sama-sama 15 ribu. Sampai di masbagik saya
turun diperempatan yang telah di tunggu oleh Janual. Setelah berkenalan,
ngobrol sebentar, kemudian saya diajak menuju kerumahnya untuk istirahat.
Sekitar 15 menit dari masbagik bersepeda motor, sampai di rumah
Janual. Saya dikenalkan Janual dengan ibu dan adiknya yang bernama Nana. Tidak
lama ngobrol, teman Janual datang, sayapun berkenalan, namanya Roni. Janual dan
saya sekalian mengajak Roni untuk ikut bergabung mendaki Gunung Rinjani. Roni
bilang setuju saat itu, dan besok dia janaji balik kerumah Janual, untuk
bersiap-siap. Karna sudah capek, dan semakin malam, sayapun izin untuk istirahat
ke Janual.
Pendakian Ke Gunung Rinjani
Senin pagi, pukul 8, saya dan Janual membeli logistik, tidak jauh
dari rumahnya. Adalah sekitar tiga puluh menit mutar-mutar di swalayan membeli
logistik, dan merasa cukup untuk persediaan selama pendakian, kami kembali ke
rumah. lanjut packing, Sembari packing dan menunggu Roni, saya coba cek lagi
perlengkapan pribadi yang akan saya bawa, menitipkan di rumah Janual barang
yang saya rasa tidak perlu di bawa.
Pukul 11.00 WITA, kami berangkat menuju desa Sembalun dengan
bersepeda motor. Saya boncengan dengan Roni, dan Janual sendiri dengan
motornya. Perjalanan, awalnya melewati jalan raya menuju pasar Aikmel. Dari
pasar Aikmel perjalanan baru terasa menegangkan. Jalan aspal yang kadang banyak
bolong-bolongnya. Kanan dan kiri hutan lebat. Kemudian lanjut melewati
punggungan bukit yang terus menanjak disertai belokan tajam. Jurang yang kadang
di kanan dan kiri bukit siap menanti. Kalau tidak hati-hati dan kosentrasi,
bisa-bisa motor bablas langsung masuk jurang.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, kami sampai di desa
sembalun. Desa terakhir sebelum pendakian. Kami sempat makan dirumah penduduk.
Mengisi perut yang terasa kosong, kemudian istirahat sejenak.
Jam 14.50 WITA, Selesai berdoa, meminta kelancaran dan keselamatan
dalam pendakian kepada Sang Pencipta Alam, kami mulai melangkahkan kaki menuju
jalur pendakian. Awal jalur yang dilewati berupa jalan setapak diantara rumah
penduduk. “ Ini jalur pendakian penduduk, Bang Yon, lebih cepat dan menghemat
waktu sekitar dua jam dari jalur pos resmiSembalun” begitu penjelasan Janual,
saat kaki mulai melangkah melewati pematang sawah dan ladang warga.
Dua jam berjalan kami sampai di pos I. Di pos ini ada sebuah
shelter -- gubuk semi permanen tempat istirahat -- yang berada di tempat
terbuka ditengah padang savana. Jalur yang dilalui menuju pos ini masih
terhitung landai. Melewati bukit-bukit bak kampungnya Teletubbies dengan padang
rumput yang indah. Pemandangan yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, padang
rumput yang terhampar begitu luas terlihat menguning seperti hamparan sawah
yang mana padinya siap di panen. Sayang sekali, sampai di pos I kabut mulai
tampak menyelimuti padang savana di depan mata.
Dua puluh menit istirahat, udara dingin mulai terasa di tubuh. Jam
di tangan saya menunjukkan pukul 17.10 WITA. Kami mulai beranjak melanjutkan
perjalanan menuju pos II. Jalur yang dilalui masih merupakan padang savana
dengan trek yang juga masih terbilang landai. Kabut masih menutupi pandangan
mata. Matahari kian menuju ke peraduannya. Ufuk barat.
Berjalan selama 45 menit kami sampai di pos II. Pos ini terletak
di pinggir jalur sungai. Ada jembatan menghubungkan dua bukit yang terbelah
oleh jalur sungai yang kelihatan sekali tak ada airnya. Disini ada aliran mata
air yang mengalir di sebelah kiri sisi jembatan, tidak jauh di depan shelter.
Aliran air yang mengalir dari mata air ini kecil sekali, tapi cukuplah untuk
mengisi botol air yang telah kosong.
Saat itu, senja semakin matang. Matahari makin menghilang di ufuk
barat. Udara dingin semakin membuat badan terasa menggigil. Lama-lama berdiam
untuk istirahat makin terasa dingin di tubuh. Kabut tak tampak lagi, hanya sisa
cahaya matahari yang tampak di sebelah barat langit senja. Saya menaikkan
carrier ke pundak yang di ikuti oleh Roni dan Janual kami lalu melanjutkan
perjalanan menuju pos III.
Jam di tangan saya menunjukkan pukul 18.30 WITA. Matahari sempurna
menghilang. Sekarang hanya cahaya senter di tangan yang jadi penerang jalan.
Janual sebelumnya juga telah memasang headlamp di kepalanya. Roni juga memegang
satu senter, berjalan paling depan di ikuti oleh janual kemudian saya paling
belakang. Jalur menuju pos III masih tak terlalu berat. Melewati bukit-bukit
kecil dengan tanjakan yang tak terlalu terjal.
Satu jam berjalan kami sampai di post III. Pos ini terletak di
balik bukit-bukit kecil, yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah shelter. Di
shelter tersebut ada dua orang yang lagi tidur dengan berbungkus slepping bad.
Sepanjang jalan kami tidak ada berpapasan dengan pendaki lain, sampai pos ini
baru menemukan manusia, itu pun sudah terkapar di shelter. Janual mengajak saya
untuk bermalam di pos ini, melanjutkan perjalanan besok pagi saja. Saya setuju,
walau sebenarnya saya lebih menyukai jalan malam, tapi badan saya juga terasa
5L ( Lemah. Letih. Lesu. Lelah. Letoy ) saat itu. Kami lantas mendirikan dua
buah tenda, tidak jauh di depan shelter.
Tenda telah berdiri, saatnya masak untuk makan malam, “kita diner
dulu bang” begitulah kata janual. “haha...diner di alam terbuka, mantap”
kataku. Janual masuk ke dalam tenda menyiapkan makan malam. Saya masih diluar
tenda menghirup udara malam gunung rinjani. Memandang langit malam. Tepatnya
saya lagi melihat bulan yang membayang di balik awan. Roni di sebelah tenda
lagi mendirikan sholat. Dua orang di shelter masih terlelap di dalam sleeping
bad. Ndak tau juga apa mereka terlelap atau menahan dingin.
Udara malam makin terasa dingin, lama-lama di luar tenda membuat
saya makin menggigil. Jaket polar yang saya pakai tak mampu menahan dinginnya
angin malam gunung Rinjani. Saya beranjak masuk dalam tenda. Tenda dimana
Janual lagi masak makan malam. Roni sudah di dalam tenda dua menit lalu
membantu janual. Di dalam tenda Janual menjelaskan bahwa disini baru pos III
bayangan, yang awalnya saya kira pos III, ternyata sekitar 20 menit lagi dari
sini. “Pos III terletak di pinggir jalur sungai, agak seram kalau nge-camp di
sana malam-malam”, kata Janual. Janual juga menjelaskan, kalau menuju
pelawangan sembalun dari pos sembalun ada empat pos dan dua pos bayangan.
Sebelum pos IV di pelawangan sembalun, nanti ada pos IV bayangan yang juga
berada di pelawangan. Saat itu saya hanya menyimak penjelasan janual, karna
saya buta akan gunung ini.
Malam semakin matang. Binatang malam semakin banyak bernyanyi di
luar sana. Udara dingin tak terasa oleh kehangatan canda tawa di dalam tenda.
Selesai makan, bercanda ngalor ngidul, dan lebih banyak saya mendengar cerita
Janual tentang dia mendaki gunung rinjani dan tentang lombok. Kopi dan teh
hanya tersisa ampasnya di dalam gelas. Jam ditangan saya telah menunjukkan
pukul 23.30 WITA. Saya beranjak keluar menuju tenda yang saya bawa dan telah
berdiri disamping tenda janual. Saatnya istirahat mengembalikan kondisi tubuh,
sebelum besok melanjutkan perjalanan menuju pelawangan sembalun.
Pagi hari, matahari sempurna bersinar. Cuaca cerah. Dua orang yang
tidur di shelter semalam juga telah bangun. Kami berkenalan. Namanya Dapek dan
Risman mahasiswa dari Kota Semarang. Kami akhirnya sarapan bareng pagi itu
sambil ngobrol. Mereka ternyata juga baru pertama kali ke gunung rinjani dan
tidak membawa tenda, jadilah mereka menginap di shelter malamnya.
Selesai sarapan, istirahat sebentar kami lanjut packing. Sekitar
pukul 09.30 WITA kami berangkat melanjutkan perjalanan. Sekarang kami berjalan
berlima beriringan. Roni memimpin di depan dan saya paling belakang. Jalur yang
dilalui masih terbilang landai tak ada tanjakannya. Seperti yang di bilang
Janual semalam, 20 menit kemudian kami sampai di pos III. Posnya terletak di
pinggir aliran sungai yang kering dan shelternya juga kelihatan sudah hampir
roboh.
Dari pos III, kami langsung melanjutkan perjalanan. Kini jalur
yang dilalui berupa bukit-bukit yang treknya terus menanjak. Habis satu bukit
di lalui, tepampang lagi didepan mata satu bukit, lagi-lagi treknya menanjak.
Matahari sempurna langsung menyinari tubuh. Tak ada penghalang. Membuat badan
makin berkeringat membasahi pakaian di badan. Beban di punggung makin terasa
berat. Jalan yang di lalui semakin berdebu. Membuat nafas makin sesak. Jantung
berpacu seiring dengan nafas keluar. Jangan tanya tempat berteduh. Jarang
sekali ditemui pohon yang melebihi tinggi orang dewasa di jalur yang telah kami
lewati.
Entah sudah berapa bukit yang di lalui. Tapi belum juga habis,
selalu ada bukit yang menanti di depan mata, yang terknya terus menanjak. Tak
habis-habis. Saya seret kaki lima langkah lalu berhenti lagi, “Waduh,
mantap nian nih treknya” itu yang keluar dari mulut saya disaat berhenti untuk
mengambil nafas. Saya yang berjalan paling belakang semakin jauh tertinggal.
Saya lihat di depan, Roni, Dapek dan Risman hampir sampai di penghujung bukit
satunya lagi. Padahal saya baru sampai di atas bukit yang mereka lewati.
hmmm...cepat sekali jalan mereka., pikirku.
Janual yang berada di depan sekitar lima meter berhenti dan
berteriak, “ Ayo bang semangat, kalau capek lihat belakang bang “. Saya
membalikkan badan, Ternyata pemandangan dibelakang sangat menakjubkan.
Bukit-bukit yang menguning didepan sana terlihat berjejer dari atas sini.
Lumayan obat capek. Saya mengangkat dua jempol tangan ke Janual sebagai tanda
uploas. Untuk pemandangannya, kemudian melanjutkan lagi perjalanan.
Di sepanjang jalan terakhir kami banyak berpapasan dengan pendaki
yang turun, menurut janual yang ngobrol dengan bahasa yang tidak saya mengerti,
mereka adalah warga sembalun. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu sampai bapak-bapak
banyak sekali ada seratusan mungkin.”Mereka bukan dari puncak tapi dari danau
segara anak, bang”, katanya janual. Saat itu kaki sudah berada di bukit
terakhir, bibir pelawangan sembalun.
Ada sekitar enam jam berjalan dari pos III, akhirnya sampai di
pelawangan sembalun. Pemandangan danau segara anak telah menanti di depan mata,
begitu indah terlihat di depan sana, Airnya yang biru seperti terkungkung dalam
sebuah wadah. Wadah dari alam, berupa bukit-bukit cadas. Terbayar sudah rasa
lelah yang di lalui. Entah yang dilalui tadi namanya bukit penyesalan atau
bukit penderitaan yang pernah saya baca dari blog para pendaki. Yang pasti,
saya memang menderita melalui treknya. Dahsyat, tenaga benar-benar habis.
Ternyata perjalanan belum berakhir, untuk camp terakhir sebelum ke
puncak, harus berjalan lagi menyusuri bibir pelawangan. Jalannya cukup landai.
Tapi, karna tenaga sudah habis, kaki sudah gempor (istilah dari Roni) jadilah
jalan yang landai itu terasa berat.
Tidak jauh berjalan, sampai di pos IV extra. Saya berhenti sebentar,
mengambil nafas yang tercecer, hehehe, mengatur nafas maksudnya. Kemudian
lanjut lagi berjalan, sekitar lima belas menit baru sampai di pos IV. Pos
terakhir sebelum ke puncak anjani. Janual, Roni, Dapek dan Risman sudah sampai
mungkin sekitar lima menit lalu. Mereka tampak sudah menurunkan carrier.
Lagi menikmati pemandangan yang tersaji didepan mata. Jam ditangan saya
menunjukkan pukul 16.00 WITA. Saya menurunkan carrier, bergabung dengan mereka.
Danau segara anak makin terlihat menakjubkan disini. Puncak Anjani juga tampak di sebelah sisi kiri atas sana. “Dekat di mata jauh di kaki bang” kata Roni. “hahaha...” hanya tawa kecut yang terdengar. Sayang sekali, baru lima menit menikmati, gumpalan awan menutup pemandangan pandangan mata. Seperti ada yang jail meniupkan awan untuk menutup pemandangan didepan mata.
Danau segara anak makin terlihat menakjubkan disini. Puncak Anjani juga tampak di sebelah sisi kiri atas sana. “Dekat di mata jauh di kaki bang” kata Roni. “hahaha...” hanya tawa kecut yang terdengar. Sayang sekali, baru lima menit menikmati, gumpalan awan menutup pemandangan pandangan mata. Seperti ada yang jail meniupkan awan untuk menutup pemandangan didepan mata.
Kami beranjak untuk mendirikan tenda. Roni dan Dapek mengambil air dengan membawa beberapa botol aqua yang telah kosong ke mata air yang terletak di sebelah sisi kiri bukit pelawangan. Adalah sekitar tiga puluh menit mereka baru sampai lagi di tempat tenda yang telah kami dirikan.
Semakin sore para pendaki semakin banyak yang datang dan
mendirikan tenda di pelawangan. Para pendaki yang datang kebanyakan bule-bule
dari luar negri bersama porter yang membawa beban di pundak mereka. Mereka naik
dari jalur Senaru, kemudian turun ke sembalun.
Sore semakin matang. Sunset memberikan sajian yang indah sore
harinya. Bias cahayanya menambah keindahan di langit. Danau segara anak masih
telihat tertutup oleh kabut tipis. Udara dingin juga makin terasa seiring
hilangnya cahaya matahari. Kami mengabadikan moment tersebut, berfoto bersama.
Malam nan cerah juga tidak kalah memberikan keindahan. Lihat
cahaya bulan di langit sungguh indah menerangi, ditambah ribuan bintang
berkelip-kelip, seperti ada ada yang berpesta di atas sana. Malam yang indah.
Malam yang dingin. Saatnya beranjak ke dalam tenda. Istirahat
Menuju Puncak Anjani
Udara yang dingin membuat saya susah tidur malam harinya.
Sayup-sayup nyanyian binatang malam di luar sana tak mampu membuat saya
terlelap. Risman yang berada di sampaing saya sudah kelihatan damai di alam
mimpi. Hanya suara ngoroknya terdengar pelan, menambah ramai nyanyian malam.
Dari tenda sebelah yang di temapati Roni, Janual dan Dapek, juga tak terdengar
suara lagi. Mungkin sudah terlelap juga dengan mimpi masing-masing. Saya
melilihat jam ditangan. Pukul 22.30 WITA. Saatnya memaksakan tidur. Istirahat.
Jam 01.30 WITA, kami semua sudah bangun bersiap-siap untuk melalukan
summit ke puncak. Perjalanan terakhir menuju puncak, pikirku. Saya lihat
keatas, langit masih terlihat cerah, tak ada awan atau kabut yang menutup
pandangan mata. Bulan juga masih setia menerangi menunggu matahari pagi. Hanya
bintang yang telah berkurang menghiasi langit di pelawangan. Udara dingin
terasa sekali membuat tubuh saya bergetar.
Tepat Jam dua dini hari kami mulai melangkahkan kaki. Senter di
tangan telah siap menerangi di tangan masing-masing. Kami berangkat berbarengan
dengan pendaki lain yang kebanyakan bule dengan di ikuti oleh pemandu/porter
mereka. Jalur menuju kepuncak yang dilalui berupa trek berpasir yang menanjak.
Jalur ini begitu terasa berat. Debu berterbangan seiringi langkah kaki pendaki
didepan, yang membuat nafas makin terasa sesak.
Beberapa jam berjalan di jalur pasir dan berdebu, kami sampai di
jalur yang landai, menyusuri jalan setapak yang lebarnya tak lebih dari dua
meter. Kanan dan kiri jalan berupa jurang terjal siap menanti jika tak
kosentrasi dan was-was melangkahkan kaki. Udara makin terasa dingin, tak ada
pohon sebagai penghalang disini.
Semakin lama berjalan, makin terasa jalan yang dilalui menanjak.
Jalannya pun jalur pasir dan berbatu. Porter yang selalu setia mengiri
bule-bule semakin jauh terlihat didepan. Saya lihat teman-teman sudah agak jauh
di depan. Tinggallah saya yang berdiri sedang mengumpulkan nafas dan menahan
dingin sambil menatap mereka di depan sana. Semburat cahaya matahari mulai
tampak di sebelah timur
“Ayo bang, semangaaaat..” Janual dan Roni didepan sana silih
berganti memberikan semangat. Teman-teman yang baik. Dan mungkin, alangkah
lebih baiknya lagi mereka mau menggendong saya sampai puncak, ya
?....hahaha. Saya menyeret langkah kaki lagi. Tiga langkah saya melangkakan
kaki malah melorot satu langkah. “ hufff...,ajib nih jalur” itu kata yang
keluar dari mulut saya seiring nafas yang sesak. Saya paksakan terus kaki
melangkah, hingga sampai di balik-balik batu besar, kira-kira sepuluh meter
lagi sampai puncak.
Sampai disini, tenaga saya benar-benar habis terkuras. Kaki teasa
gempor di buatnya. Saya melihat ke puncak, sudah dekat, tapi kaki sudah terasa
berat untuk melangkah lagi. Matahari semakin tinggi bersinar. Teman - teman
yang lain telah sampai di puncak. Bule-bule beserta porternya, malah telah
beranjak turun dari puncak, satu persatu lewat di depan saya yang lagi
bersender dibatu besar. berlindung dari sengatan cahaya matahari..
“Bang Yon..., ayooo...sedikit lagi “ terdengar teriakan Janual
dari puncak. “hmm...sedikit lagi ya ?”. Saya beranjak dari duduk, menarik
napas, lantas menghembuskan melalui mulut. Dengan sisa tenaga, saya seret
langkah kaki. Terus. Terus. Dan terus menyeret langkah kaki. Satu kali hembusan
nafas, satu kali kata “puncak” yang keluar dari mulut saya. Menghitung langkah
kaki, memberi semangat pada diri, menghilangkan rasa lelah. Sepuluh langkah
lagi, sembilan langkah lagi, ..., tiga langkah lagi, dua langkah, satu langkah.
Dan akhirnya, “Alhamdulillah...” kata pertama yang keluar dari mulut saat saya
sudah sampai dipuncak Rinjani.
“Selamat datang di puncak Rinjani, bang Yon”. Janual menyambut saya. “Alhamdulliah.. akhirnya, sampai juga di puncak” balasku. Saya melihat Jam di tangan menunjukkan pukul 06.30 WITA. Meski tak dapat melihat sunrise dari puncak, namun pemandangan yang menakjubkan tersaji kemanapun mata memandang. Perjalanan yang panjang dengan perjuangan melelahkan sungguh terbayar sampai disini. Pandangan mata sungguh terasa lepas, hanya langit sebagai pembatas. Ah...keindahan di puncak biarlah mata yang menyaksikan dan berbicara. Mulut biarlah bungkam, terpesona dengan keindahan yang tersaji. Sungguh. Sungguh menakjubkan sekali alam ini, Alam kita, Indonesia.





0 komentar:
Post a Comment